Arti Sebutan Flexing yang Jadi Fenomena di Media Sosial

JariBijak.com – Banyak dari kita yang memanfaatkan media sosial sebagai wadah untuk menunjukkan versi terbaik dari diri kita.

Foto atau video yang kita unggah pun sering kali dipoles sedemikian rupa hingga tampak estetis.

Namun, orang-orang yang sering mengunggah momen saat liburan ke luar negeri atau mengunggah foto-foto saat mengendarai kendaraan mewah kerap dilabeli ‘flexing’.

Istilah ini pun kian menjamur di media sosial dan banyak digunakan oleh warganet. Lantas, apa itu flexing?

Pengertian Flexing

Mengutip Urban Dictionary, flexing adalah tindakan menyombongkan diri tentang hal-hal yang berhubungan dengan uang, seperti berapa banyak uang yang kita miliki atau barang mahal apa saja yang kita koleksi. Dengan demikian, secara sederhana, flexing adalah pamer.

Dilansir dari Strategy Lab, flexing merupakan istilah baru untuk teori pensinyalan dalam biologi evolusioner. Misalnya, hewan akan melakukan flexing untuk memberi sinyal kepada lawan jenis agar tertarik untuk kawin.

Seiring waktu, evolusi telah mengubah mekanisme cara kita memberi sinyal. Contohnya, di media sosial, banyak orang yang ingin dipandang sebagai sosok yang ideal untuk dijadikan pasangan. Dalam hal ini, pasangan yang ideal berarti kaya, menarik, pintar, populer, dan sebagainya.

Flexing Membuat Kita Sulit dapat Teman Baru

Menurut penelitian, menyombongkan diri ini tidak membantu kita untuk mendapatkan teman.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Social Psychological and Personality Science menemukan bahwa 66 persen orang cenderung memilih mobil mewah daripada mobil standar, tetapi untuk menarik orang baru, kebanyakan orang lebih suka berteman dengan orang yang memiliki kendaraan lebih murah.

Stephen Garcia, salah satu peneliti, mengatakan bahwa mungkin orang berpikir bahwa mengendarai mobil mewah akan meningkatkan minat pertemanan, tetapi simbol status tersebut justru membuat orang baru kurang tertarik untuk berteman.

Menurut Garcia, para psikolog menyebut efek ini sebagai perbedaan perspektif dalam perbandingan sosial.

Garcia menjelaskan, ketika kita memutuskan apa yang akan dipakai, kita berada dalam ‘peran presentasi’ dan ingin menampilkan yang terbaik. Dengan kata lain, kita ingin terlihat lebih baik dari yang lain.

Namun, kita kerap tidak melihat perspektif orang baru yang juga ingin terlihat baik dan tidak ingin kalah oleh orang lain.

Jadi, saat kita membandingkan diri kita dengan orang lain, dan cenderung ingin lebih baik dari mereka, kita harus ingat bahwa semua orang juga melakukan hal yang sama.

Tidak ada yang ingin dibayangi dan flexing kekayaan atau barang mahal kemungkinan besar akan membuat kita membayangi orang-orang di sekitar.

Sementara simbol status, mobil mewah, pakaian mewah, dan lainnya diasosiasikan dengan keistimewaan, menunjukkan status saat mencoba mencari teman baru justru bisa menjadi bumerang, kata Garcia.

Baca Juga: Jangan Ceroboh, 5 Hal Penting Ini Tak Perlu Diunggah Media Sosial

Lonjakan di Tol Japek Diatasi Cepat, Arus Mudik Tetap Terkendali

Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol. Agus Suryonugroho menyampaikan bahwa kondisi arus...

Puncak Arus Balik Diprediksi 24 Maret, Korlantas Terapkan One Way Nasional

Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri tengah mematangkan strategi untuk menghadapi arus balik Lebaran 2026...

One Way Nasional Ditutup, Korlantas Pastikan Lalu Lintas Dua Arah Lancar

Korps Lalu Lintas Polri secara resmi mengakhiri pemberlakuan sistem rekayasa lalu lintas one way...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here