Pakar UB Prof. Andy Apresiasi Teknologi Pengawasan di Operasi Ketupat 2026

Operasi Ketupat 2026 mencatat berbagai capaian menggembirakan, terutama dalam pengelolaan arus mudik Lebaran yang relatif aman dan lancar. Penurunan jumlah korban meninggal dunia hingga 30,41 persen menjadi salah satu indikator utama keberhasilan ini, sebagaimana diungkap oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Irjen Agus Suryonugroho, Kepala Korps Lalu Lintas Polri, menyatakan bahwa selama periode mudik dan arus balik tahun ini, terjadi penurunan fatalitas sebanyak 104 orang. Selain itu, total kecelakaan lalu lintas nasional menurun sebesar 5,31 persen atau 153 kejadian lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Operasi Ketupat 2026 bahkan berhasil mencatat nihil kecelakaan menonjol, memperlihatkan kemajuan signifikan di sektor pengelolaan lalu lintas nasional.

Penerapan strategi rekayasa lalu lintas yang terkontrol seperti One Way Nasional dan One Way Sepenggal Presisi bersinergi dengan pemanfaatan teknologi canggih. Penggunaan ETLE Patrol Presisi, Command Center Mobile, dan Body Cam telah mendukung pengawasan serta pengendalian secara real-time dalam operasi tersebut.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo turut memberikan apresiasi kepada seluruh personel dan pemangku kepentingan yang terlibat dalam operasi ini. Ia menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan buah kerja sama kolektif guna mewujudkan tujuan “Mudik Aman, Keluarga Bahagia”.

Kepakaran di bidang kebijakan publik juga memberikan pandangan penting mengenai keberhasilan ini. Prof. Andy Fefta Wijaya, dari Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, menilai bahwa sinergi antar berbagai elemen lintas sektor melalui metode Governance Multi Helix merupakan kunci utama. Pendekatan ini mengintegrasikan aktor pemerintah dan non-pemerintah dalam sistem pengambilan keputusan bersama yang terkoordinasi.

“Kolaborasi Governance Multi Helix merupakan pendekatan tata kelola yang mengintegrasikan aktor negara dan non-negara dalam suatu ekosistem kebijakan berbasis shared decision-making,” ujar Prof Andy pada Selasa (31/3/2026).

Dalam konteks Operasi Ketupat 2026, keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, bisnis, masyarakat, akademisi, hingga media, berjalan secara simultan dan terintegrasi. Prof Andy menegaskan bahwa model koordinasi sektor tunggal sudah tidak memadai menghadapi kompleksitas mobilitas masyarakat yang meningkat.

Konsep Collaborative Governance Plus Multi Helix (CGPMH) menjadi solusi adaptif untuk permasalahan seperti ego sektoral dan fragmentasi data antar lembaga yang selama ini menjadi tantangan utama. Tahun ini, integrasi sistem, kesamaan visi, dan pembagian peran lebih jelas mulai terbukti efektif.

“Pendekatan Multi Helix bukan hanya konsep, tetapi telah diaplikasikan dan terbukti manjur,” jelasnya. Penguatan integrasi data nasional, sistem kendali terpadu, dan pengelolaan berbasis koridor wilayah juga disebut menjadi faktor penting dalam memastikan kelancaran dan keamanan mudik tahun ini.

Dengan seluruh elemen yang terlibat bekerja secara terpadu dan memanfaatkan teknologi serta strategi rekayasa lalu lintas, Operasi Ketupat 2026 berhasil melampaui target keselamatan dan efisiensi, menandai peningkatan signifikan dalam pengelolaan mudik Lebaran.

 

Korlantas Polri Dipuji, PW GP Al Washliyah DKI Nilai Mudik 2026 Penuh Nilai Kemanusiaan

Jakarta – Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Al Washliyah (PW GP Al Washliyah) DKI Jakarta...

Operasi Ketupat 2026 Sukses, Analis Nasky Putra Sebut Strategi Polri Efektif

Arus kendaraan pada mudik dan balik Lebaran 2026 menunjukkan lonjakan volume, namun tingkat fatalitas...

Kakorlantas Diganjar Penghargaan atas Sukses Pengamanan Mudik 2026

Keberhasilan pengelolaan arus mudik dan balik Lebaran 2026 di Indonesia tercermin dari penurunan signifikan...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here