Korps Lalu Lintas Polri menggelar Tactical Floor Game (TFG) sebagai langkah strategis untuk memantapkan kesiapan Operasi Ketupat 2026 dalam pengamanan arus mudik dan arus balik Idulfitri 1447 Hijriah.
Kegiatan ini berlangsung di NTMC Polri pada Selasa (3/3/2026), dengan melibatkan lintas kementerian dan pemangku kepentingan sektor transportasi. Forum tersebut menjadi ruang simulasi taktis guna memastikan kesiapan rencana operasi (Renops), memetakan potensi kerawanan, serta memperkuat koordinasi antarinstansi menjelang puncak pergerakan masyarakat.
Kakorlantas Polri Irjen Pol. Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum. menegaskan bahwa Operasi Ketupat 2026 memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar pengaturan lalu lintas. “Operasi Ketupat 2026 adalah operasi kemanusiaan, bukan hanya operasi bidang lalu lintas. Negara hadir untuk memastikan masyarakat aman, selamat, tertib, dan lancar,” ujarnya. I
a juga menekankan bahwa tagline Mudik Aman Keluarga Bahagia bukan sekadar slogan, melainkan komitmen berbasis sistem dan evaluasi berkelanjutan. “Aman itu adalah sistem, bukan kebetulan. Keselamatan tidak terjadi kebetulan, ia dirancang dan dikawal dengan sistem,” tegasnya.
Kegiatan TFG dipimpin langsung oleh Irjen Agus dan dihadiri para Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda serta Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) Polres jajaran. Setiap wilayah memaparkan simulasi cara bertindak (CB) yang telah disiapkan untuk mengantisipasi kepadatan, kecelakaan, hingga potensi gangguan lain selama periode mudik.
Sebagai bentuk sinergi lintas sektor, sejumlah pimpinan kementerian dan BUMN turut ambil bagian. Hadir mewakili Mabes Polri, Waastama Ops Kapolri Irjen Pol. Laksana. Dari sektor jalan tol dan transportasi darat, Direktur Utama PT Jasa Marga Rivan Achmad Purwantono serta Direktur Utama PT Jasa Raharja Muhammad Awaluddin turut memberikan paparan. Selain itu, Direktur Lalu Lintas Jalan Kementerian Perhubungan Rudi Irawan dan Direktur Teknik PT ASDP Indonesia Ferry Nana Sutisna memaparkan kesiapan sektor transportasi darat dan penyeberangan. Perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum juga menyampaikan kondisi infrastruktur jalan nasional dan tol menjelang Lebaran 2026.
Irjen Laksana menekankan bahwa pengamanan mudik merupakan tanggung jawab bersama seluruh pihak. “Arus mudik ini bukan hanya urusan Lantas, tetapi urusan semuanya,” ujarnya. Ia menjelaskan, TFG menjadi sarana penting untuk menguji Renops secara realistis agar pelaksanaan di lapangan berjalan efektif. “TFG untuk menguji Renops. TFG-nya betul berarti Renops betul, TFG-nya salah berarti Renops salah,” katanya. Ia juga mengingatkan adanya potensi situasi darurat yang tidak terduga, mulai dari kecelakaan hingga kejadian lain di luar prediksi.
Dari sisi proyeksi lalu lintas, Rivan Achmad Purwantono memperkirakan lonjakan kendaraan signifikan pada periode mudik tahun ini. “Diperkirakan kendaraan naik 17 persen dibanding normal,” ujarnya. Sekitar 3,5 juta kendaraan diprediksi memasuki ruas tol saat arus mudik, dengan puncak kepadatan pada H-3 atau 18 Maret dan arus balik pada 24 Maret.
Sebanyak 50 persen kendaraan diproyeksikan menuju arah timur, dan 57 persen di antaranya mengarah ke Trans Jawa. Untuk mendukung kelancaran, Jasa Marga menyiapkan lebih dari 500 kendaraan operasional, 62 rest area aktif, serta 3.500 kamera pemantauan terintegrasi melalui aplikasi Travoy. “Travoy ini live 3.500 kamera dengan tingkat akurasi 97 persen,” ujar Rivan.
Sementara itu, Rudi Irawan menegaskan pentingnya penguatan aspek keselamatan dalam penyelenggaraan angkutan Lebaran. Ia menyebut empat faktor utama, yakni keselamatan dan keamanan, sinergi dan kolaborasi, perhatian terhadap potensi masalah kecil, serta antisipasi ketidakpastian. “Penguatan aspek keselamatan harus menjadi prioritas untuk mencapai cita-cita bersama yaitu zero accident dan zero fatality,” ujarnya.
Melalui koordinasi lintas sektor dan penguatan sistem berbasis data, Operasi Ketupat 2026 diharapkan mampu menghadirkan mudik yang aman, tertib, lancar, dan berkeselamatan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

