Setiap tahun menjelang Hari Raya Idulfitri, jutaan masyarakat Indonesia melakukan perjalanan menuju kampung halaman. Jalan tol, jalur arteri, pelabuhan penyeberangan, stasiun kereta api, hingga bandara dipadati para pemudik yang ingin merayakan Lebaran bersama keluarga. Bagi banyak orang, mudik bukan sekadar aktivitas perjalanan dari kota menuju desa. Tradisi ini merupakan perjalanan emosional yang mempertemukan kembali keluarga, mempererat tali silaturahmi, serta menjaga tradisi yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia selama puluhan tahun.
Namun di balik padatnya arus perjalanan tersebut, ada satu harapan yang dimiliki setiap pemudik: tiba di rumah dengan selamat. Oleh karena itu, pemerintah memandang mudik sebagai fenomena sosial besar yang membutuhkan pengelolaan serius. Mudik tidak hanya berkaitan dengan pergerakan kendaraan, tetapi juga menyangkut keselamatan jutaan masyarakat yang berada di perjalanan.
Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri menjadikan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama dalam pengamanan arus mudik Lebaran 2026 melalui Operasi Ketupat. Kakorlantas Polri Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum., menegaskan bahwa pengamanan mudik bukan sekadar urusan pengaturan lalu lintas, tetapi juga bagian dari upaya melindungi masyarakat yang sedang melakukan perjalanan pulang.
“Operasi Ketupat 2026 adalah operasi kemanusiaan, bukan hanya operasi bidang lalu lintas. Negara hadir untuk memastikan masyarakat dapat mudik dengan aman, selamat, tertib, dan lancar,” ujar Irjen Agus dalam keterangannya, Selasa (4/3/2026).
Fenomena mudik Lebaran memang menjadi mobilitas manusia terbesar di Indonesia setiap tahunnya. Dalam waktu relatif singkat, jutaan orang melakukan perjalanan lintas kota bahkan lintas pulau secara bersamaan. Lonjakan mobilitas tersebut memengaruhi berbagai sektor, mulai dari transportasi publik hingga aktivitas ekonomi di berbagai daerah.
Kereta api dipenuhi penumpang, bandara mengalami lonjakan jumlah penerbangan, sementara kendaraan pribadi memadati jalan raya menuju berbagai daerah tujuan. Kondisi ini menunjukkan bahwa mudik bukan hanya tradisi budaya, melainkan juga peristiwa sosial berskala nasional yang melibatkan banyak pihak.
Karena itu, pengelolaan arus mudik memerlukan kerja sama lintas sektor. Tidak hanya kepolisian, tetapi juga kementerian, pemerintah daerah, operator transportasi, hingga masyarakat sebagai pengguna jalan.
Korlantas Polri memandang setiap kendaraan yang melintas di jalur mudik bukan sekadar angka statistik. Di dalamnya terdapat keluarga yang ingin berkumpul kembali setelah lama terpisah, orang tua yang menanti anaknya pulang, serta anak-anak yang menantikan suasana Lebaran di kampung halaman.
“Yang kami amankan bukan hanya arus kendaraan, tetapi perjalanan keluarga,” kata Irjen Agus.
Menurutnya, keselamatan perjalanan tidak terjadi secara kebetulan. Sistem pengamanan harus dirancang dengan matang melalui perencanaan, teknologi, serta kesiapan personel di lapangan.
“Aman itu adalah sistem, bukan kebetulan. Keselamatan dirancang melalui perencanaan, teknologi, dan kesiapan personel,” ujarnya saat membuka Tactical Floor Game Operasi Ketupat 2026.
Pendekatan sistematis tersebut terbukti memberikan dampak positif. Pada pelaksanaan Operasi Ketupat 2025, angka kecelakaan lalu lintas berhasil ditekan hingga 33 persen, sementara tingkat fatalitas korban kecelakaan turun hingga 51 persen.
Meski demikian, Korlantas Polri menilai capaian tersebut bukan alasan untuk berpuas diri. Peningkatan volume kendaraan setiap tahun menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga keselamatan para pemudik.
“Volume kendaraan meningkat setiap tahun, tetapi keselamatan harus tetap menjadi prioritas utama,” ujar Irjen Agus.
Sebagai bagian dari persiapan Operasi Ketupat 2026, Korlantas Polri juga menggelar Tactical Floor Game (TFG) yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Kegiatan ini diikuti oleh Kementerian Perhubungan, Kementerian PUPR, Jasa Marga, Jasa Raharja, operator penyeberangan, hingga pemerintah daerah.
Melalui simulasi tersebut, para pihak menyusun strategi pengaturan lalu lintas selama masa mudik, termasuk penerapan rekayasa lalu lintas seperti contraflow dan sistem one way.
Selain itu, teknologi juga dimanfaatkan untuk mendukung pengawasan arus mudik. Salah satunya melalui penggunaan ETLE Drone yang memungkinkan pemantauan kondisi lalu lintas dari udara secara real-time.
Dengan teknologi tersebut, petugas dapat mendeteksi potensi kemacetan maupun pelanggaran lalu lintas dengan lebih cepat sehingga langkah antisipasi dapat segera dilakukan.
“Kami menggunakan teknologi seperti ETLE Drone untuk memantau arus mudik secara real-time sehingga potensi kemacetan dapat diantisipasi lebih cepat,” ujar Irjen Agus.
Meski teknologi terus berkembang, Korlantas menegaskan bahwa faktor utama keberhasilan pengamanan tetap terletak pada kesiapan sumber daya manusia yang mengelola sistem tersebut.

