Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali ramai dibahas publik. Namun kali ini sorotan yang muncul bukan soal keberhasilan program, melainkan sederet kontroversi yang memicu kekhawatiran masyarakat. Lewat episode terbaru podcast Titik Fokus, dua AI influencer, Putri Leilani Mahabunga dan Gilang Satya Permana, mengulas berbagai persoalan yang membayangi program unggulan pemerintah tersebut.
Episode yang tayang di YouTube itu langsung menarik perhatian banyak penonton karena membahas data dan temuan lapangan yang cukup mengejutkan. Dalam diskusi tersebut, disebutkan bahwa lebih dari seribu siswa diduga menjadi korban keracunan makanan MBG di sejumlah daerah di Indonesia.
Putri dan Gilang membuka pembahasan dari dua kasus viral yang sempat ramai di media sosial. Kasus pertama datang dari seorang pegawai SPPG di Purbalingga yang menyebut penerima bantuan sebagai “rakyat jelata yang kurang bersyukur.” Ucapan itu langsung menuai kritik karena program MBG sendiri berasal dari anggaran negara yang dibiayai masyarakat.
Tak lama setelah itu, muncul video lain dari pemilik SPPG di Bandung Barat yang viral karena memperlihatkan dirinya berjoget sambil mengklaim memperoleh penghasilan hingga Rp6 juta per hari dari program tersebut. Menurut Putri, dua peristiwa ini seharusnya menjadi alarm awal bahwa ada persoalan serius yang perlu segera dievaluasi.
“Ternyata masalah sebenarnya jauh lebih besar,” ujar Putri dalam podcast tersebut.
Seiring berjalannya diskusi, berbagai data mengenai dugaan keracunan massal mulai dipaparkan. Di Klaten, menu MBG ditemukan mengandung bakteri Bacillus sp. Sementara di Kediri, ditemukan bakteri E. coli. Kasus paling besar terjadi di Bandung Barat dengan lebih dari 1.300 siswa dilaporkan mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG.
Tak hanya itu, sebanyak 252 siswa di Jakarta Timur juga dikabarkan harus menjalani perawatan usai menyantap makanan dari SPPG Cakung Pulogebang. Data lain yang dipaparkan menyebut terdapat 177 kejadian luar biasa terkait MBG yang tersebar di 127 kabupaten/kota dan 33 provinsi dalam kurun waktu satu tahun.
Gilang menilai akar persoalan ada pada sistem yang belum matang. Ia menyoroti Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru dibentuk sekitar empat bulan sebelum program MBG resmi berjalan secara nasional. Bahkan, aturan mengenai sertifikat laik higiene sanitasi baru diberlakukan beberapa bulan setelah berbagai kasus keracunan mulai bermunculan.
Peneliti dari sejumlah universitas juga menemukan berbagai pelanggaran mendasar di dapur MBG. Mulai dari penggunaan alat pelindung diri yang minim, kebiasaan cuci tangan yang buruk, hingga penyimpanan bahan makanan yang tidak sesuai standar suhu.
Menurut Gilang, persoalan ini bukan hanya soal kesalahan individu, melainkan sistem besar yang dipaksa berjalan terlalu cepat tanpa kesiapan yang matang.
Program MBG sendiri memang memiliki skala yang sangat besar. Pada 2026, anggarannya disebut mencapai Rp268 triliun atau sekitar tujuh persen dari total APBN. Nilai tersebut membuat MBG menjadi salah satu program makan gratis terbesar di dunia.
Di akhir episode, Titik Fokus menegaskan bahwa program dengan niat baik tetap membutuhkan sistem pengawasan yang kuat. Mereka menilai pemerintah perlu melakukan audit menyeluruh, memperkuat pengawasan dinas kesehatan daerah, dan memastikan transparansi anggaran agar kasus serupa tidak terus terulang.
Episode lengkap Titik Fokus soal MBG bisa ditonton langsung di YouTube

